Aku bukan seorang penyair yang mampu memikat ribuan orang dengan sepenggal kata. Aku juga bukan pujangga, merayu, bukanlah kepandaianku dalam memanipulasi. Juga bukan orang kaya, yang mampu membeli semua yang ada diatas ranah tanah ini.
Aku hanyalah manusia biasa. Dan takkan berdaya, jika Illahi tidak memberikan roh untukku bernaung. Aku hanyalah manusia sederhana, yang hanya mampu memberikanmu senyuman.
Manusia lemah, yang hanya punya rasa rindu yang menggebu. Saat jarak itu kembali mampu merenggut kebahagiaan dan memisahkan raga kita. Aku hanya bisa merasakan bayang tubuhmu dengan susah payah. Tak ayal, aku sering termenung karena tak kuasa menahan pilu dan sakit akan kerinduan.
Harapku mungkin selalu terdengar oleh semut, ingin hari demi hari akan cepat berlalu. Doaku selalu terpancar, semoga disana kau tetap dalam keadaan baik. Semoga kau tetap terjaga oleh selimut-Nya. Hingga nanti kau pulang kembali, dan kita bisa habiskan detik bersama.
Dalam khayalku kini, aku ingin menggenggam tanganmu tanpa lepas. Berbaring dipangkuanmu, bercerita tentang pilu yang ku rasakan. Menangis, saat tak ada yang mampu menenangkan jiwa ini dulu.
Aku berjanji, di sepersekian detik waktu yang kita punya bersama. Takkan ku buang dengan sia-sia. Aku akan menikmati ranum pipimu, manisnya senyum bibirmu, dan sayunya kedua kelopak matamu.
Biarlah sekarang kita memperbaiki diri di antara renggangan jarak.
Cepat pulang...
Senin, 28 September 2015
Cepat Pulang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar