Selasa, 20 Oktober 2015

Ini kita?

Haruskah aku berteriak, hingga pita suaraku putus?.
Atau hingga aku bisa membangunkan singa yang tidur?.
Atau membuat lari segerombol burung yang sedang bercengkrama disurga?.
Ini kita, yang senantiasa harus mengalah kepada jarak.
Ini kita, yang senantiasa harus mengalah kepada waktu.
Ini kita, yang senantiasa harus mengalah kepada orang yang hanya menginginkan bangkai busuk, dari binatang jalan yang mati?.
Ini kita, yang harus menikmati sedu sedan keindahan senja dineraka kita masing-masing.
Aku tak mengerti, apakah ini adil atau tidak. Rasanya begitu pahit, tak enak.
Aku berfikir tuhanku memberikanku lidah, juga untuk mengecap rasa manis yang dia ciptakan. Bukan cuma pahit.
Atau potong saja lidah dan hancurkan hati ini!.
Linglung, itu juga yang aku rasa. Diam seperti sedimen batu yang dihinggapi kelelawar, agar dia nyaman menikmati kenikmatannya.
Aku berharap kegilaan akan rasa ini segera bisa berakhir. Dan kita bisa mengecap rasa manis bersamaan.
Benar apa yang kau katakan, 'hanya sabar yang patut dipertebal' dan..
Inilah kita!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar