Aku akan percaya cinta,
Jika dalam kepulan asap,
Aku masih tetap bisa bernafas dengan legah.
Aku akan percaya cinta,
Jika aku menginjak bara api,
Aku tidak merasakan panas.
Aku akan percaya cinta,
Jika aku berada dikepungan para singa yang lapar,
Aku masih tetap merasa aman.
Aku akan percaya cinta,
Jika aku berada digurun Sahara,
Aku tetap merasa berdua dengan-Mu.
Kamis, 29 Oktober 2015
Aku Akan Percaya
Selasa, 20 Oktober 2015
Ini kita?
Haruskah aku berteriak, hingga pita suaraku putus?.
Atau hingga aku bisa membangunkan singa yang tidur?.
Atau membuat lari segerombol burung yang sedang bercengkrama disurga?.
Ini kita, yang senantiasa harus mengalah kepada jarak.
Ini kita, yang senantiasa harus mengalah kepada waktu.
Ini kita, yang senantiasa harus mengalah kepada orang yang hanya menginginkan bangkai busuk, dari binatang jalan yang mati?.
Ini kita, yang harus menikmati sedu sedan keindahan senja dineraka kita masing-masing.
Aku tak mengerti, apakah ini adil atau tidak. Rasanya begitu pahit, tak enak.
Aku berfikir tuhanku memberikanku lidah, juga untuk mengecap rasa manis yang dia ciptakan. Bukan cuma pahit.
Atau potong saja lidah dan hancurkan hati ini!.
Linglung, itu juga yang aku rasa. Diam seperti sedimen batu yang dihinggapi kelelawar, agar dia nyaman menikmati kenikmatannya.
Aku berharap kegilaan akan rasa ini segera bisa berakhir. Dan kita bisa mengecap rasa manis bersamaan.
Benar apa yang kau katakan, 'hanya sabar yang patut dipertebal' dan..
Inilah kita!
Jumat, 16 Oktober 2015
Tentang Impian
Tentang sepenggal kubin yang terpisah rentangan perekat.
Tentang sepasang jendela yang terpisahkan dinding.
dan Tentang sepasang hati yang dipisahkan jarak. Aku bertahan disini menanti secerca harapan yang dalam impian aku harapkan terwujud dan bukan ekspektasi belaka, menunggumu kembali.
Tentang sebuah tanya yang kau bisikkan ditelingaku 'kenapa kau ingin tetap menunggu orang sepertiku kembali?'. Tak perlu kau tanya hal bodoh yang aku artikan 'untuk apa aku bernapas?'. Aku disini akan tetap berdiri, terutama tentang sebuah makna dibalik aku tetap menunggu kedatanganmu.
Percayalah! Aku akan tetap menunggumu disini, meski dalam gelap pun aku berada, aku akan berusaha untuk tetap menuliskan surat tentang kerinduanku kepadamu. Aku akan tetap menunggumu disini, meski hanya sebagai tetesan air mata didalam haru tangisku.
Aku akan tetap disini, menunggu sebuah tatapan mata yang akan memberi sepercik api untuk kembali menyinari hati yang sudah gelap akan terselimuti awan kelabu.
Aku akan tetap disini, sampai kau datang membawa oleh - oleh pelukan hangat. Dan kita akan tersenyum dan tertawa bersama. Menggandeng jemari ditaman bunga, dan berbaring dipangkuanmu. Aku harap aku tidak bodoh tentang impianku ini.
Akan kutunggu kau disini. Kota ini, kasihku..
Kamis, 15 Oktober 2015
Cerita bisu
Aku hanya ingin berdua dengan mu. Disisa waktu yang tak kutahu kapan detik terakhir dan berakhirnya denyut nadiku. Kapan aku memelukmu, merasakan sebuah dekapan hangat yang mungkin takkan kurasakan lagi. Menatap wajah yang selalu membuatku selalu nyaman dan semangat menjalani hari, dan mungkin takkan kulihat lagi. Menghayati arti dari genggaman jemarimu yang sangat kuat, seolah tak mau kau lepaskan.
Alu hanya ingin berdua dengan mu. Mengajakmu berjalan dengan motor tua yang aku miliki. Menyusuri ruang gelap kota yang selalu kau keluhkan setiap saat. Kau berbicara ingin pulang dan tak ingin berada dikota terpencil ini. Dan saat itu aku hanya bisa tersenyum dalam tangisku.
Dengan mu aku bahagia, menyusuri kota dengan motor tua sembari bercerita tentang setiap jengkal tempat yang pernah aku jalani sebelum kau duduk manis dibelakangku, dan berpeluk ke arah pinggangku.
Meakipun pada akhirnya kau akan kembali pada mereka yang benar - benar kau rindukan, keluargamu.
Dan disini, aku akan menikmati setiap lambaian tangan yang dulu selalu merangkul ku. Sembari melihat mata tajam yang dulu kumiliki, dan tak sadar mataku sudah mulai berkaca - kaca atas semuanya. Semut hitam menjadi saksi bisu atas rintik air mata ini.
Akan kutulis lembaran demi lembaran cerita yang kita jalani, ketika kau masih disisiku, duduk manis dibelakang motor tuaku sambil mencerca kota yang membuatmu begitu kesepian.
Dan..aku disini..menunggumu
Rabu, 07 Oktober 2015
Sebuah Pengharapan
Dan ketika aku memang melambungkan dan membanggakan kata-kata -kamu- dalam sebuah balon udara yang aku naiki. Tak peduli seberapa tinggi anganku, tak peduli seberapa tinggi ragaku saat ini. Aku tak takut akan ketinggian berangan-angan. Aku juga akan siap, ketika balon udara yang aku naiki seketika meledak, dan ragaku akan kembali terhenyak dibumi.
Hanya sebuah kata -kamu- yang aku inginkan.
kamu yang selalu bersedia dan terus ada menemaniku. kamu yang terus bersedia sabar menahan rasa sakit ketika sebuah sisipan duri menancap tajam dikaki lembutmu.
Tak peduli, seberapa sakit diriku untuk tetap berusaha membahagiakan mu. Meski berbagai rasa akan aku cicipi. Manis, asam, pahit dan kecutnya sebuah kata -kamu-.
Dan -kamu- bukanlah sebuah kata dengan latar semu. Tapi -kamu- adalah sebuah kata indah yang aku ingini tetap berada disampingku, bersamaku, menemaniku dalam sebuah relung jiwa yang sekian lama sudah kedinginan.
Terlalu banyak ekspektasi yang aku punya dan ingin wujudkan bersamamu. Tapi tak apa, aku percaya pada sang pencipta jagat raya. Yang akan mengabulkan satu persatu do'a yang senantiasa aku panjatkan disini. Untuk tetap ada bersama. -kamu-