Kamis, 14 Juli 2016

Kau Menang Aku Kalah

Aku memang benar-benar tenggelam di danau yang kau penuhi dengan rasa kemanjaan. Aku benar-benar merasa hidup di danau ini, meskipun dia bisa kering dengan seketika. Tapi aku tak pernah membayangkan hal itu terjadi, aku percaya kau akan tetap bersamaku dengan danau ini. Bagiku bersamamu adalah senyaman detik yang pernah ada. Sejengkal pun aku tak ingin beranjak di sini. Ini kenyamananku.
Tapi entalah, terkadang takdir suka membuat seseorang menderita. Terkadang kemauannya sangat memilukan, lebih pahit dari apapun yang tercipta di dunia. Itulah takdir, dia berusaha keras mengeringkan danau yang aku sudah berenang bebas sejak dulu disitu. Dia mengusirku keluar tanpa ampun dan tanpa belas kasihan. Dia menyuruhku untuk bersegera mungkin melupakanmu. Tertawa aku di buatnya. Dan seiring berjalannya waktu aku baru mengetahui, ternyata kau sudah bersekongkol dengannya, lembut cara kalian membunuhku. Sudah katakan saja kau yang hendak beranjak pergi.
Akupun tidak akan pernah berusaha menahan mu disini. Aku tak pernah berusaha menahan hati yang memang sudah tak ingin menetap bersamaku lagi. Aku tahu, kau tidak akan meninggalkan apapun untukku. Bahkan danau itu, hanya sebuah jebakan belaka agar aku bisa mati tenggelam disana.
Silahkan pergi, meski sulit untukku terima. Sangat sulit tentunya, karena melupakanmu berarti aku akan menghapus separuh dari kehidupanku. Tapi aku patut menerima itu semua.
Kita sudah tidak sejalan lagi. Kau memilih pergi dengan amarahmu dan aku memilih menetap dengan sabarku. Aku tinggal bersama mimpi yang kian menepi dan mati tanpa diketahui. Pergilah, jika memang itu yang menjadi pilihan tetap bagimu. Akupun takkan menahanmu secara penuh. Jikapun kau memang sebagian dari apa yang aku hirup, kau akan datang membantuku bernapas. Jikapun sebaliknya, setidaknya aku akan mati dalam keadaan tersenyum sambil menunggumu kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar