Selasa, 05 Januari 2016

Mengenang, Berangan dan Diam

Mengenangmu dan berangan-angan atas itu adalah caraku untuk menikmati seduhan kopi pahit yang telah kubuat sendiri. Racikan yang pas dengan penuh rasa.
Mengenangmu dan berangan-angan atas itu adalah caraku untuk menikmati rintikan deru hujan yang meniti lambat dan pelan, disamping jendela kecilku.
Mengenangmu dan berangan-angan, juga adalah caraku dalam menghargai detik yang terbuang saatku tak mampu bangkit akan keterpurukan dari anak panah yang menghujam tepat didada kiriku.
Mengenang atas rindu yang telah terucap.
Mengenang atas kata yang tak terbantah.
Sebuah kelucuan yang terjadi, saat kita saling mengucap kata rindu yang antah berantah seperti malaikat maut yang tak sabar hendak mencabut nyawa seseorang.
Mudah bagimu untuk membuatku seperti mayat berjalan. Ditakuti oleh semua orang, padahal aku hanya ingin merasa sedikit kebahagiaan yang diciptakan.
Aku terlalu takut berbicara rindu kepadamu yang tengah sibuk berbual dengan manusia lain.
Aku terlalu takut untuk berbicara kalau aku membutuhkanmu saat kau terbahak bersama manusia lain.
Ketakutan sedah merajalela dalam otakku. Ketakutan akan sebuah permintaan, harap dan angan takkan pernah sampai.
Biarlah aku disini, diperkaya akan diam. Dibesarkan oleh diam. Bermain dengan diam dan mati dengan diam.
Diam dalam mengenangmu. Dan diam dalam berangan-angan padamu adalan caraku menikmati detik berlalu dalam hidupku, sendu dan caraku berjumpa dengan sang pemilik jubah putih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar